UKM berbasis Klaster dalam Sistem Inovasi Daerah Jawa Tengah

image

Indeks daya saing Indonesia pada tahun 2011 menurut World Economic Forum (WEF) menempati peringkat 46 dari 142 negara, 2 tingkat lebih rendah dibandingkan tahun 2010. Indeks daya saing yang dimuat dalam The Global Competitiveness Report 2011-2012 itu didasarkan pada 12 pilar pengukuran, salah satu di antaranya pilar daya inovasi suatu bangsa, di mana Indonesia menempati urutan ke-36. Menurut WEF, rendahnya daya inovasi Indonesia disebabkan oleh kapasitas inovasi nasional yang masih rendah (menempati peringkat ke-30); kualitas lembaga litbang yang perlu ditingkatkan (peringkat ke-55); pendanaan riset dari industri yang masih rendah (peringkat ke-31); ketersediaan peneliti dan perekayasa yang perlu ditingkatkan (peringkat ke-45); kolaborasi antara universitas, lembaga litbang, dan industri yang masih perlu dibangun (peringkat ke-41); dan penggunaan paten sebagai alat perlindungan hak cipta penemu dan sekaligus alat untuk diseminasi teknologi yang perlu dibangun lebih baik (peringkat ke-86). Selain itu, dukungan pemerintah dalam bentuk pembelian teknologi canggih hasil litbang dalam negeri (government procurement of advanced technology product) juga masih rendah (peringkat ke-34).

Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, dibangun suatu sistem inovasi baik di tingkat nasional maupun daerah yang saling bersinergi. Tingkat mikro, meso maupun makro merupakan kesatuan integral yang mendukung sistem inovasi nasional. Sebagai aktor di tingkat makro, Balitbang Provinsi Jawa Tengah mendorong peningkatan daya saing masyarakat melalui pengembangan UKM berbasis klaster. Kegiatan tersebut didukung dengan adanya tenaga bantu Intermediator Teknologi dari Kementrian Riset & Teknologi melalui program “Peningkatan Peran Pemuda  dalam Intermediasi Iptek guna Penguatan Sistem Inovasi Daerah”. Team intermediator tersebut, Asnia Ratna Paramita, Eko Novianto, Galuh Prawitasari, Pridana Nasution dan Ratna Sari Dewi merupakan putra/putri daerah yang telah mengikuti seleksi dari Kemenristek dan mendapat pelatihan selama tiga bulan di Jerman dan Puspiptek Serpong untuk mendukung SIDa Jawa Tengah. UKM berbasis klaster di Jawa Tengah didukung pula melalui program Inkubator Teknologi & Bisnis Balitbang Prov. Jateng dimana masing-masing Intermediator mendampingi dua sampai tiga UKM berbasis klaster kompetensi daerah.


Pengembangan SIDa UKM berbasis klaster adalah sinkronisasi antara innovation trigger, lembaga pendukung inovasi, dan pengguna inovasi di daerah guna mengembangkan produktivitas dan daya saing klaster UKM. Pendekatan ini digunakan di Jawa Tengah dengan beberapa alasan : (1) keberhasilan klaster memiliki daya ungkit tinggi bagi pembangunan daerah; (2) membantu UKM untuk mencapai skala ekonomi yang optimum melalui kebersamaan; (3) memudahkan transfer pengetahuan dan teknologi; (4) menciptakan lingkungan yang kreatif untuk menumbuhkan inovasi dan kerja sama; (5) lebih fokus dalam mendorong sinergitas dan memudahkan stakeholder dalam fasilitasi dan pembinaan UKM di dalam klaster.
Inovasi di dalam klaster diarahkan pada rekayasa sosial (social engineering) seperti perkuatan kelembagaan klaster dan rekayasa teknologi (technology engineering) melalui pengembangan teknologi tepat guna. Dua arahan inovasi dalam klaster UKM diimplementasikan dalam enam tahapan SIDa di Jawa Tengah : (1) sosialisasi SIDa di enam eks karisedenan; (2) membangun 35 Klaster Kompetensi Inti Daerah; (3) assessment kebutuhan teknologi klaster; (4) fasilitasi lembaga inovasi untuk pengembangan teknologi klaster; (5) penguatan teknologi klaster; dan (6) pameran produk inovasi.


Klaster Kompetensi Inti Daerah ditentukan oleh masing-masing Kabupaten/ Kota melalui rapat bersama (FGD) oleh tim multi-stakeholder yang terdiri atas SKPD yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi, Kadin dan asosiasi perusahaan sejenis, Perguruan Tinggi, serta tokoh masyarakat. Di antara 35 Klaster Kompetensi Inti Daerah adalah Klaster Biofarmaka di Kabupaten Karanganyar, Klaster Gula Kelapa di Kabupaten Banyumas, Klaster Serabut Kelapa di Kabupaten Cilacap, Klaster Kopi di Kabupaten Temanggung, dan Klaster Rumput Laut di Kabupaten Brebes, Klaster Kacang Tanah di Kabupaten Jepara.  Setiap klaster memiliki Forum Rembuk Klaster sebagai bentuk perkuatan kelembagaan. Setiap Forum Rembuk Klaster harus membuat AD/ART, Rencana Usaha, dan SK Legalitas Forum untuk selanjutnya dikukuhkan oleh Kepala Daerah. Forum Rembuk Klaster ini yang akan memfasilitasi inovasi di dalam klaster yang meliputi technology engineering dan social engineering.

Usaha perkuatan kelembagaan klaster (social engineering) dilakukan dengan beberapa cara, seperti pelatihan bagi pengurus klaster untuk mengidentifikasi kebutuhan klaster, menyusun program klaster, pelatihan monev; pertemuan rutin bagi pengurus klaster; studi banding ke klaster lain, pusat penyedia bahan baku dan pusat potensi pasar; perluasan jejaring yang berkaitan dengan value chain klaster.  Sementara itu, technology engineering pada klaster diawali dengan identifikasi kebutuhan teknologi untuk klaster. Proses ini dilakukan melalui tiga hal : identifikasi permintaan pasar, identifikasi teknologi untuk pengembangan produk yang diinginkan pasar, serta identifikasi stakeholder untuk merealisasikan kebutuhan teknologi. Forum SIDa  akan mempertemukan klaster dengan penyedia teknologi dan penyedia dana (baik pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi). Untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan teknologi klaster telah dipertemukan antara klaster yang didampingi oleh Bappeda Kabupaten/Kota dengan Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah sebagai salah satu penyedia teknologi. Adapun biaya pengembangan teknologi diajukan melalui bentuk Dana DIKTI (Hibah Kompetisi), RISTEK, CSR dan dana-dana lain dari instansi pendukung pengembangan teknologi.

Kunci keberhasilan SIDa UKM berbasis klaster meliputi lima hal:

  1. Ketua dan pengurus klaster mempunyai komitmen tinggi bagi pengembangan klaster.
  2. Kepala Daerah beserta SKPD terkait dan DPRD mendukung program pengembangan klaster.
  3. Lembaga litbang pemerintah maupun swasta dan Perguruan Tinggi bersama-sama memikirkan kebutuhan teknologi klaster.
  4. Adanya peran dari pengusaha sebagai penyedia pasar.
  5. Kesadaran bersama bahwa usaha pengembangan klaster merupakan suatu proses yang tidak instan (rsd/galuh).

Wed, 25 Jul 2012 @12:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+7+4

hubungi kami
TIM TEKNOLOGI INFORMASI
DAN KOMUNIKASI

BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
PROVINSI JAWA TENGAH
Jl. Imam Bonjol No. 190
Semarang, Jawa Tengah
Indonesia 50132
Telp. (024) 3540025
Copyright © 2014 Balitbang Provinsi Jawa Tengah · All Rights Reserved