Profil Klaster Logam Tumang Kabupaten Boyolali

image
Legenda Berdirinya Desa Tumang
Desa Tumang secara administratif terletak di desa Tumang kecamatan Cepogo kabupaten Boyolali. Secara geografis desa ini berada di kaki Gunung Merbabu sebelah Timur, 13 km dari kota Boyolali ke arah Barat dan 40 km dari kota Solo. Mayoritas penduduk desa Tumang bermata pencaharian di sector industri dan pertanian.

Konon kira-kira dalam abad XVII lahirlah sorang anak dari Kerajaan Mataram II yang diberi nama  Rogosari. Karena memiliki tubuh cacat maka dianggap tidak pantas untuk hidup di kerajaan dan harus diasingkan kemudian diitipkan kepada Kyai Wonosegoro yang bertempat tinggal di lereng Gunung Merapi. Setelah merasa mampu mandiri Pangeran Rogosari kemudian memisahkan diri dan membangun sebuah desa yang diberi nama Tumang. Dalam upaya membangun desa Pangeran Rogosari dibantu abdi dari keraton yang punya kemampuan mengajarkan cara membuat keris dan kerangkanya. Utusan kedua mengajarkan cara membuat pakaian keraton dari perak. Utusan ketiga mengajarkan membuat alat-alat dapur dari tembaga, dan utusan keempat mengajarkan cara menjahit. Keempat kerajinan tersebut sampai sekarang masih dilakukan masyarakat bahkan kerajian membuat peralatan rumah tangga menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Tumang.

Fitur produk Klaster Logam Tumang Boyolali adalah lampu gantung, kubah tembaga, interiror, eksterior dan aneka kerajinan. Pasar sasaran dari produk Logam Tumanga dalah hotel di luar negeri, yaitu Taiwan, Eropa, Jepang, USA, Timur Tengah, Maladewa dan Mauritus. Kebutuhan teknologi dan kelembagaan dari klaster adalah teknologi vermekel & elektro platting, las argon & tekuk plat, genset, gerendra tangan & mesin amplas, mesin roll pipa dan bubut.

Pada mulanya pengrajin hanya memproduksi jenis peralatan rumah tangga (misalnya: dandang, ceret, kuali dll) namun pada perkembangannya mulai tahun 1980-an muncul inovasi-inovasi baru. Sebagian pengrajin mencoba merintis kerajinan seni ukir tembaga, yang jenis produknya tidak lagi berupa peralatan rumah tangga namun berupa perlengkapan dan asesoris perumahan (misal: pot bunga, guci, lampu duduk, lampu gantung, kaligrafi, hiasan dinding, dll). Sedangkan kerajinan tradisional berupa alat-alat rumah tangga yang menggunakan bahan baku tembaga akhirnya kalah bersaing dengan produk sejenis yang yang berbahan baku alumunium. Maka sekitar tahun 1990-an sebagian pengrajin peralatan rumah tangga yang menggunakan bahan baku dari tembaga mencoba memproduksi dengan bahan baku alumunium dengan pertimbangan supaya mampu bersaing dengan produk sejenis dari luar.

(Sumber: Pemkab Boyolali, Fedep & Kajian Strategis Balitbang Prov. Jateng)

Wed, 25 Jul 2012 @12:03


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+3+8

hubungi kami
TIM TEKNOLOGI INFORMASI
DAN KOMUNIKASI

BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
PROVINSI JAWA TENGAH
Jl. Imam Bonjol No. 190
Semarang, Jawa Tengah
Indonesia 50132
Telp. (024) 3540025
Copyright © 2014 Balitbang Provinsi Jawa Tengah · All Rights Reserved