Pembangunan Terpadu Wujudkan Desa Inovatif

image

Pengembangan Desa Inovatif diawali dari hasil temuan pada saat dilakukan penelitian awal tentang Desa Inovatif pada tahun lalu ( Maret - Juli 2011 ) oleh tim peneliti dari Balitbang Prov Jateng yakni Drs. Suharyanto, MH, Drs. Abubakar Al Jufri, Arif Sofianto, SIP, Msi .


Obyek penelitian ‘Desa Inofasi’ berlokasi di tiga desa, meliputi :

1.     Desa Mlatiharjo Kab. Demak

Keunggulan dari desa Mlatiharjo adalah Kepala Desa bersama dengan masyarakatnya telah melakukan kegiatan inovasi dengan menghasilkan jenis padi baru yang spesifik, yaitu varietas Melati dam Sulthan yang mempunyai keunggulan dibanding jenis padi yang lama. Disamping itu, desa ini juga mengembangkan padi organik dan bibit buah unggul.

2.     Desa Jatiroyo Kab. Karanganyar

Pelayanan publik menjadi keunggulan bagi masyarakat desa Jatiroyo. Hal ini dikarenakan perangkat desa Jatiroyo memasukkan agenda-agenda program seperti PNPM Mandiri dan PDT ke dalam APBD yang diperuntukan desa. Sehingga berbagai program menjadi bagian integral dari pemerintah desa.


3.     Desa Samiran Kab. Boyolali

Berbeda dengan keunggulan desa lainnya, keunggulan desa Samiran terletak pada banyaknya inovasi yang diterapkan pada beberapa sektor dalam desa tersebut, diantaranya sektor energi yang menerapkan rencana desa mandiri energi, sektor pariwisata, dan juga sektor UMKM.


Dari penelitian terhadap tiga desa tersebut terdapat tiga hal penting yang dapat  menunjang pembangunan desa inovatif. Pertama , kemampuan aparat desa dalam melakukan sinkronisasi atau keterpaduan berbagai sumber daya yang ada. Pembangunan wilayah tidak cukup hanya menggunakan pendekatan sektoral atau pendekatan regional saja.


Perencanaan pembangunan wilayah seharusnya memadukan kedua pendekatan tersebut. Proyek-proyek sektoral dari kementerian, dinas-dinas pemerintah dan daerah maupun lembaga non-pemerintah, sebaiknya mampu dikelola oleh stakeholder desa sebagai sumber daya untuk membangun wilayahnya. Menjalin hubungan dengan pemerintah, industri, dan masyarakat pada waktu merumuskan rencana pembangunan merupakan prinsip utama.


Sedang Pembangunan Terpadu merupakan wujud konsep pembangunan berimbang, disamping mengupayakan peningkatan produktivitas juga mempertimbangkan dan memperhatikan lingkungan dan keadilan. Kedua, aparat desa mampu melakukan inovasi berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memaksimalkan potensinya. Untuk mengatasi keterbatasan SDM, SDA, maupun sarana masyarakat desa perlu melakukan inovasi. Hal ini dimaksudkan agar tercapainya perubahan-perubahan sikap masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup yang mencakup banyak aspek, baik ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik, pertahanan, dan keamanan.

 

Ketiga adalah model pembangunan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan peran aktif masyarakat desa untuk terlibat dalam pembangunan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Dengan demikian akan timbul rasa kebersamaan, kepercayaan, dan keterbukaan baik antar masyarakat maupun aparat desa dengan masyarakat dan sebaliknya.


Desa yang menghadapi kelemahan modal, teknologi, dan sumber daya manusia memperkuat ketimpangan dan pembedaan antara desa dan kota sebagai perbedaan antara tradisional dan modern serta pertanian dan industri. Maka pembangunan desa dengan prinsip keberlanjutan adalah pembangunan yang bertujuan berkelanjutan dengan metode antitesa dari keterbelakangan desa terhadap kota. Desa tidak lagi dipandang secara pragmatis, romantis, dominatif, harmonis, inferior, atau fatalis, tetapi dipandang sebagai bagian dari masyarakat modern yang juga memiliki potensi daya saing.


Desa Mlatiharjo menunjukkan bahwa desa juga memiliki sumber daya manusia yang modern dan progresif. Dengan iptek, desa mampu memahami potensinya, merumuskan agenda pembangunan sesuai potensinya dan memanfaatkan iptek untuk mengatasi keterbatasannya. 


Desa Samiran menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat merupakan kekuatan yang sangat besar untuk mendorong pembangunan yang sinkron. Kekuatan yang sedikit jika dikumpulkan akan menghasilkan kekuatan yang besar, dengan konsep sinkronisasi yang tertata dengan baik, arah pembangunan desa menjadi bisa terfokus. 


Kedua desa tersebut menunjukkan bagaimana kerjasama dengan pihak-pihak di luar desa dapat mengatasi keterbatasan dan memberikan solusi bagi kekurangan desa. Desa Jatiroyo menunjukkan bahawa kebersamaan dengan pengaturan yang terstruktur membuat pembangunan menghasilkan sesuatu yang besar, melebihi kapasitas masyarakat desa itu sendiri. Kemampuan merangkum berbagai kekuatan desa dalam sebuah manajemen yang besar pendorong pembangunan desa terintegrasi menjadi kekuatan besar.


Secara operasional, agar konsep pembangunan terpadu dalam mewujudkan desa inovatif dapat berjalan dengan baik, diperlukan usaha yang intensif dengan tujuan dan kecenderungan memberikan fokus perhatian kepada kelompok maupun daerah tertentu, melalui penyampaian pelayanan, bantuan, dan informasi kepada masyarakat desa. BALITBANG Provinsi Jawa Tengah telah mengadakan beberapa pelatihan yang dapat mendukung terwujudnya pembangunan terpadu desa inovatif.


Pelatihan pertama mengenai “Peningkatan Penguasaan Teknologi dan Bisnis Masyarakat” yang telah dilaksanakan pada tanggal 17 s.d 19 April 2012 di Salatiga. Tujuan Pelatihan adalah memberikan kemampuan tentang metode penggalian potensi desa, membangun kelembagaan dan melakukan monitoring evaluasi berbasis masyarakat, membekali aparat desa tentang bagaimana membangun desa dan memanfaatkan sumber daya desa dengan cara baru di Kec. Borobudur, Kab. Magelang, serta mempelajari salah satu contoh desa inovatif di Jawa Tengah sebagai bahan pembelajaran peserta.


Peserta pelatihan sebanyak 25 orang terdiri dari unsur perangkat desa (Non PNS). Metode pelatihan yang dipergunakan meliputi ceramah, diskusi dan tanya jawab, penugasan ke desa inovatif, serta evaluasi dan refleksi. Hasil dari pelatihan ini adalah peserta dapat melakukan inovasi dan pengembangan desa berdasarkan potensi desanya.


Pelatihan Kedua tentang “T echnology E ntrepreneur   ( aplikasi green house pada budidaya sayuran organik di dataran rendah ) pada tanggal 8  hingga  1 0 Mei 2012 bertempat di Kab. Demak . Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia dalam penerapan teknologi khususnya budidaya sayuran organik di dataran rendah dengan pemanfaatan green house .  


Peserta pelatihan sebanyak 25 orang, terdiri dari masyarakat Desa Mlatiharjo, Kec. Gajah, Kab. Demak. Metode pelatihan yang digunakan antara lain; teori, diskusi dan tanya jawab, praktek budidaya sayuran organik di Green House , praktek pembuatan pupuk dan pestisida organik . Hasil dari pelatihan ini adalah peserta dari masyarakat Desa Mlatiharjo, Kec. Gajah, Kab. Demak dapat melakukan budidaya sayuran organik melalui pemanfaatan Green House (artikel by dita).

Wed, 25 Jul 2012 @12:02


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+3+9

hubungi kami
TIM TEKNOLOGI INFORMASI
DAN KOMUNIKASI

BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
PROVINSI JAWA TENGAH
Jl. Imam Bonjol No. 190
Semarang, Jawa Tengah
Indonesia 50132
Telp. (024) 3540025
Copyright © 2014 Balitbang Provinsi Jawa Tengah · All Rights Reserved